Dapatkan kesempatan mengikuti kuis menarik, bermain games seru dan berlangganan newsletter Hydro dengan REGISTRASI sebagai anggota Hydro. Kamu juga bisa gunakan akun facebook kamu untuk login
GURU, JASAMU TIADA TARA
Guru adalah seorang pahlawan tanpa tanda jasa.
Seberapa setujukah sobat HYDRO dengan pernyataan ini? Saya rasa, tidak ada yang bisa menyangkal bahwa jasa guru memang tiada tara. Kita tidak akan bisa sampai seperti sekarang, kalau bukan karena mereka, kan?
Memperingati Hari Guru yang jatuh pada tanggal 25 November, kali ini saya ingin mengajak sobat HYDRO untuk mengingat dan merenungkan kembali jasa guru-guru kita di masa lalu, bahkan di tengah era globalisasi ini, di mana semua orang berusaha mengejar karier dalam berbagai bidang yang dianggap ‘menjanjikan’, dengan tujuan mulianya, mereka para guru, masih rela mengabdikan diri untuk membagi ilmu, bahkan sampai ke daerah pedalaman.
Termasuk salah seorang pahlawan tanpa tanda jasa itu adalah, seorang guru Bahasa Inggris di Aceh bernama Dina Astita bahkan pernah terpilih sebagai salah satu 100 tokoh dunia pendidikan yang paling berpengaruh oleh majalah TIME. Beliau merupakan pahlawan bangkitnya pendidikan di Calang, Kabupaten Aceh Jaya pasca bencana Tsunami akhir Desember 2004 lalu.
Kehilangan ketiga anaknya saat dilanda Tsunami, tidak membuat beliau terpuruk dan menyesali nasib. Beliau justru bangkit dan termotivasi agar anak-anak yang masih hidup tidak kehilangan kesempatan dalam pendidikan. Beliau mengaku berusaha meminta bantuan ke mana-mana, termasuk LSM dan aparat keamanan. Beliau mengajak rekan-rekan pengajar lainnya untuk membentuk manajemen pengajaran agar anak-anak di tenda pengungsian bisa kembali belajar dengan normal. Bahkan, saat murid-muridnya banyak yang tidak bisa belajar karena masalah transportasi, Ibu Dina meminta bantuan dari berbagai pihak untuk menyediakan sarana transportasi gratis dan membangun asrama untuk murid-muridnya ini. Sungguh perjuangan yang luar biasa!
Ada lagi cerita menyentuh lainnya. Kali ini, ceritanya datang dari pedalaman Riau. Bapak Edi Mohammad Muhtar adalah seorang pengajar di Ukui, Pekanbaru. Lokasi beliau mengajar hanya bisa dicapai melalui jalur darat (dengan mobil atau motor) dan tidak ada angkutan umum sama sekali. Kawasan ini pun terletak di tengah perkebunan kelapa sawit yang berliku dan semua beralaskan tanah. Beliau menuturkan, sangat terkejut saat pertama kali datang ke tempat ini dalam program transmigrasi pemerintah. Wilayah ini masih berupa hutan dan binatang-binatang liar seperti gajah dan harimau masih banyak ditemukan di pemukiman warga. Berawal dari membantu temannya sebagai guru agama honorer di sekolah dasar, bapak Edi kemudian menyadari betapa minimnya pendidikan di 15 desa di Ukui yang tersebar di bukit-bukit. Dengan niat mulia membangun sekolah di Silikuan Hulu, beliau keluar dari SD tersebut dan berjuang meminta bantuan warga. Dana swadaya masyarakat mewujudkan impiannya. Selanjutnya dengan berjalannya waktu, Bapak Edi kemudian juga berhasil membangun SMP dan TK di kawasan tersebut. Tahun lalu, program Pelita Pustaka Tanoto Foundation memberikan bantuan SD 012 Silikuan Hulu binaan Bapak Edi, berupa pinjaman buku dan pelatihan gratis mengenai manajemen perpustakaan. Sayangnya, program ini tidak mencakup biaya pembuatan perpustakaan. Mungkin dari sobat HYDRO ada yang mau memberikan bantuan? Sekecil apapun bantuan sobat HYDRO akan sangat dihargai.
Selain kedua kisah di atas, kisah yang paling lekat di benak saya dan mungkin dengan sebagian besar sobat HYDRO adalah kisah Ibu Muslimah, guru SD Muhammadiyah di Belitung yang tersorot dari karya sastra Andrea Hirata, Laskar Pelangi. Beliau lah guru kesayangan Andrea dan teman-temannya yang berhasil memotivasi Andrea dan kawan-kawannya untuk terus belajar dengan segala keterbatasan yang mereka punya, apapun rintangannya.
Membaca cerita diatas, sobat HYDRO pasti ikut tersentuh kan? Kalau sobat HYDRO sendiri gimana? Siapa guru favorit sobat HYDRO? Kenapa sobat HYDRO sangat mengagumi beliau?
Ijinkan saya sedikit berbagi cerita mengenai seorang guru yang sangat saya hormati dan berkesan untuk saya.
Namanya Bapak Udin. Ia adalah seorang guru fisika di SMA saya dulu. Sejak pertama kali masuk sekolah tersebut, saya sudah mendengar banyak cerita positif mengenai beliau, salah satunya adalah, beliau merupakan ‘sasaran curhat’ para siswa-siswi SMA ini. Ketika saya diajar beliau, saya mengerti kenapa beliau menjadi guru favorit di sekolah ini. Ia pintar, cara mengajarnya jelas, dan beliau sabar. Tiap bulan, beliau bahkan menyisihkan sejumlah penghasilannya untuk membiayai anak-anak asuhnya (sejumlah murid tidak mampu yang bersekolah di SMA tersebut). Wow. Luar biasa, ya? Dan ya, beliau adalah salah satu tempat curhat terbaik. Sampai sekarang, saya selalu sempatkan main ke rumah beliau setiap beberapa bulan sekali untuk saling bertukar cerita.
Saya yakin, sobat HYDRO memiliki cerita-cerita berkesan akan guru sobat HYDRO. Jangan lupa untuk selalu mengingat jasa mereka. Sungguh untuk mereka, tidak ada yang lebih membahagiakan daripada menyaksikan murid-murid mereka berhasil. Saya yakin, mereka benar-benar adalah pelita, penerang dalam gulita.
Indahnya Berbagi Kasih Sayang
Mumpung masih dalam suasana Valentine, saya masih ingin mengajak sobat HYDRO membahas tentang kasih sayang. Kata kasih dan sayang memiliki makna yang sangat luas. Kebayang nggak kalau kita hidup tanpa rasa kasih dan sayang? Karena…

Air Kelapa memiliki kandungan nutrisi yang sangat bermanfaat bagi tubuh, Badan Dunia WHO menyebut air kelapa sebagai Fluid of Life . Journal of Physiological Anthropology & Applied Human Science menyebutkan, air kelapa merupakan minuman dehidrasi terbaik dibanding air mineral murni. Segala kebaikan ini, kini hadir dalam HYDRO.







