Dapatkan kesempatan mengikuti kuis menarik, bermain games seru dan berlangganan newsletter Hydro dengan REGISTRASI sebagai anggota Hydro. Kamu juga bisa gunakan akun facebook kamu untuk login
Berani ambil resiko agar hidup lebih “hidup”!
Beberapa hari ini saya selalu ‘diganggu’ oleh sepupu saya, Novi. Pasalnya, Novi baru saja putus hubungan dengan pria yang menjadi kekasihnya selama hampir 4 tahun. Biasanya dia akan menghubungi saya setiap kali merasa kangen, sedih, atau down. Maklum, Novi merupakan anak tunggal, tidak punya kakak atau adik sebagai tempatnya berbagi. Kebetulan saya adalah sepupu yang cukup dekat dengannya dan selalu bersedia mendengarkan curhatannya.
Suatu saat, Novi berkata pada saya, “Aku kapok jatuh cinta. Lebih baik hidup sendiri dan ngga berumah tangga. Karena punya pacar akan beresiko sakit hati seperti ini. Buat apa ambil resiko?” Terkejut saya mendengar ucapannya. Saya mengerti kalau pernyataannya itu terlontar karena emosi sesaat. Tapi saya tidak langsung menanggapi dan menyangkal kata-katanya itu. Sebagai pendengar yang baik, saat itu saya hanya bisa meyakinkan Novi untuk tenang dan tidak perlu berpikir terlalu jauh sampai ke urusan rumah tangga.
Setelah percakapan tersebut, saya jadi bertanya-tanya dalam hati: “Mengapa (kita) harus ambil resiko?” Mendengar kata resiko saja ada perasaan ngeri. Dag dig dug. Karena yang namanya resiko itu selalu tak pasti dan sulit ditebak. Untuk mendapat jawaban dari pertanyaan yang muncul di benak saya itu, saya pun membeli sebuah buku berjudul The Book of Risk karya Dan Borge.
Menurut Dan Borge dalam bukunya, resiko berarti membuat diri kita terbuka pada kemungkinan hasil yang buruk. Dan manajemen resiko artinya secara sadar mengambil tindakan untuk mengantisipasi hasil yang buruk tersebut. Sebenarnya, kita semua adalah risk manager, karena setiap hari kita selalu mengambil resiko dalam mengambil keputusan—bahkan seringkali dilakukan secara otomatis, tanpa berpikir. Contoh sederhana, misalnya ketika alarm berbunyi di pagi hari, kita memutuskan untuk segera bangun atau memutuskan untuk menekan tombol snooze dan kembali tidur. Masing-masing keputusan yang dipilih mempunyai resiko yang berbeda. Segera bangun bila sebenarnya masih ngantuk, misalnya, beresiko sakit kepala dan tubuh lemas. Sedangkan bila kembali tidur, maka resikonya terlambat bekerja/kuliah/sekolah.
Untuk hal yang sederhana dan resikonya tidak terlalu besar, mungkin tak terasa sulit bagi kita. Lain soal bila menyangkut hal penting yang resikonya mempengaruhi jalan hidup kita. Seringkali hal seperti ini membuat orang enggan mengambil resiko dan memilih jalan ‘aman’. Ya, seperti Novi sepupu saya yang merasa malas mengambil resiko patah hati sehingga ia memilih untuk tidak jatuh cinta lagi.
Padahal, sebenarnya mengambil resiko itu memiliki banyak manfaat juga. Dalam The Book of Risk disebutkan alasan-alasan seseorang harus mengambil resiko, karena:
Resiko membuka bakat, ketertarikan, kemampuan dan mimpi. Please sebutkan juga alasannya, kenapa resiko bisa membuka bakat?
Resiko mengajari kita untuk membuat tujuan yang jelas dan cara mencapainya.
Resiko memberi kita perasaan puas dan memiliki inisiatif, MEMBUAT semuanya terjadi daripada MENUNGGU semuanya terjadi.
Resiko membuka mata kita akan ide-ide baru, kemampuan, kesempatan, dan pengalaman.
Resiko membuat kita bertumbuh dan menemukan hal-hal baru tentang diri kita sendiri juga dunia, sehingga kita bisa mengembangkan kekuatan dan bakat.
Resiko itu membuat kita dapat menaklukan ketakutan (ketakutan atau rasa takut yg "pas"?)
Resiko itu merangsang dan membuat kita seperti hidup kembali.
Dalam bukunya, Dan Borge juga mengungkapkan , saat mengambil resiko akan kelihatan ada 2 tipe orang: Pertama, mereka yang takut mengambil resiko. Biasanya lambat mengambil keputusan dan penuh pertimbangan, seringkali terjebak dalam comfort zone sehingga kurang berkembang. Yang kedua, sebaliknya, mereka yang mudah mengambil resiko. Meskipun tergolong berani, mereka kerap mengambil resiko tanpa memikirkannya terlebih dahulu dan akhirnya membuat keputusan yang salah.
Jadi, bagaimana yang ideal? Kombinasi kedua tipe tersebut. Kita tetap harus berani ambil resiko, tapi dengan pemikiran dan pertimbangan yang matang. Misalnya, saya mengambil resiko ketika pertama kali mencoba minum HYDRO. Sempat terpikir "minuman apa ini? Apakah saya akan suka rasanya?" dan pikiran-pikiran lain yang muncul di benak saya. Setelah membaca informasi dikemasannya, saya pun memutuskan untuk meminumnya. Ternyata, saya suka rasanya dan benar-benar merasakan manfaatnya. Sekarang, apakah saya harus ambil risiko dan mencari minuman lain? Tentu saja kadang saya mencoba, tapi dengan pertimbangan manfaat dan rasa HYDRO yang belum ada tandingannya untuk saya, saya tetap pilih HYDRO sebagai minuman favorit.
Setelah membaca buku karangan Dan Borge mengenai resiko dan bagaimana cara mengelola resiko, saya berbincang kembali dengan Novi. Saya yakinkan bahwa resiko patah hati tak harus membuatnya kapok jatuh cinta. Yang penting, sebelum memiliki pasangan, kita harus mengenal pribadinya dan mempertimbangkan baik-baik mengenai hubungan yang akan kita jalani bersamanya. Selanjutnya, pasrahkan pada Tuhan.
Bagaimana sobat HYDRO, siap hadapi tantangan dan ambil resiko hari ini?
Registrasi PF CUP 2012 , Kompetisi Nasional Futsal
Hydro dan Planet Futsal mengadakan kompetisi Futsal skala Nasional di 6 (enam) kota. Disetiap center masing-masing akan bertanding 32 team yang akan dipilih 1 juara untuk dikirim ke Grand Final di Jakarta. Untuk Pendaftaran silahkan…

Air Kelapa memiliki kandungan nutrisi yang sangat bermanfaat bagi tubuh, Badan Dunia WHO menyebut air kelapa sebagai Fluid of Life . Journal of Physiological Anthropology & Applied Human Science menyebutkan, air kelapa merupakan minuman dehidrasi terbaik dibanding air mineral murni. Segala kebaikan ini, kini hadir dalam HYDRO.







